Melihat olahraga pelajar di Indonesia termasuk di Kota Tegal bisa bercermin dari hasil penelitian di tahun 2003 dari pakar olahraga Jerman, Hans-Peter Thumm, yang memperoleh data bahwa hanya tiga sampai lima persen dari populasi anak sekolah dasar dan menengah dari jumlah pelajar di Indonesia yang menuhi syarat motorik untuk masuk dalam olahraga prestasi (high performance sport). Sedangkan yang masuk dalam klub-klub olahraga hanya berapa persennya dari jumlah tersebut. Jadi jumlahnya hanya nol koma nol sekian.
Maka tidak mengherankan kalau beberapa pembina klub olahraga di Kota Tegal mengeluh kekurangan pemain yang berbakat. Bahkan mereka juga sering merasa heran kenapa ada atlet yang masuk klubnya tidak punya keterampilan gerak dasar. Ini tentu menjadi masalah yang sangat prinsipil, ada yang salah dalam olahraga di sekolah, tidak hanya di Kota Tegal tetapi di semua daerah di Indonesia!
Dukungan Guru
Berbicara olahraga pelajar di Kota Tegal tentu tidak sekedar kerja keras pelatih, dan pelatih yang bagus juga tidak menjadi jaminan atletnya bisa berprestasi bagus. Banyak aspek yang harus dipunyai seperti lingkungan yang mendukung, seperti sekolah, orang tua dan teman. Tetapi dalam prakteknya atlet pelajar sering merasa kurang didukung oleh guru. Padahal bila guru mau mengakui secara jujur, banyak atlet pelajar di Kota Tegal yang prestasi akademiknya lebih bagus dari sebagian siswa.
Memang kurang tepat apabila menyalahkan guru yang sangat minimalis dalam mendukung pelatihan atlet pelajar. Angka kelulusan minimal 4, 26 menjadikan guru sangat ‘ketakutan’ menghadapinya. Akhirnya atlet pelajar sering mengeluh karena sering disudutkan dalam choice yang sangat sempit sekali. Hal ini menjadi salah satu hambatan dalam peraihan prestasi olahraga pelajar. Padahal bila berbicara masa depan anak tidak hanya terletak pada faktor akademik semata.
Hambatan berikutnya adalah kegiatan ekstra kurikuler, ini diakui atau tidak memang sering menghambat atlet pelajar dalam pelatihan secara sistematis dan komprehensif. Sebagai contoh, pada saat penulis menjadi pelatih fisik disalah satu cabang olahraga, banyak atlet pelajar yang sering ijin tidak mengikuti pelatihan karena kegiatan ekstra kurikuler. Menurut penuturan atlet pelajar yang disampaikan kepada penulis, mereka merasa gurunya kurang bisa menerima kalau ijin tidak mengikuti ekstra kurikuler. Lepas dari masalah benar atau tidak penuturan tersebut, kondisi psikologis yang ada jelas mengganggu kejiwaan atlet. Padahal kalau berbicara secara ideal, yang namanya pelatihan olahraga prestasi harus sistemis, dari psikis, sampai fisik, dan tidak boleh ada istirahat yang lebih dari 48 jam. Dengan minimal pelatihan 18 jam/minggunya untuk siswa yang aktif sekolah, kurang dari itu maka tidak efektif pelatihan yang ada!
SSD Sebagai Solusi?
Maka menjadi sangat strategis dan langkah jenius kala Depdiknas meluncurkan program School Sport Development (SSD), dan Kota Tegal menjadi salah satu dari lima daerah di Propinsi Jawa Tengah yang menerimanya.
Program SSD ini sangat menguntungkan atlet pelajar. Bagaimana tidak, atlet pelajar menjadi merasa diperhatikan oleh sekolah. Memperbanyak dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang utamanya meliputi atlet, pelatih, manajer, wasit, dan administratur pertandingan dan organisasi dari kalangan sekolah. Meningkatkan pendekatan science dan technology (iptek) dalam rangka memperkokoh landasan dan memantapkan arah perkembangan olahraga pelajar dengan melibatkan sekolah. Mempersatukan pelajar di Kota Tegal lewat olahraga. Meningkatkan reputasi sekolah melalui citra positif organisasi, manajemen, dan prestasi olahraga pelajar di Kota Tegal.
Tetapi permasalahannya, mau dibawa kemana SSD tersebut? Mau ke pemassalan atau ke prestasi? Dimana kedua tujuan tersebut sama-sama mempunyai konsekuensi. Kalau untuk prestasi jelas diperlukan SDM yang mumpuni, padahal saat penulis terjun ke dunia pelatihan harus diakui bahwa ada kekurangan dalam kualitas guru pendidikan jasmani yang menjadi pelatih. Hal ini ditambah dengan project oriented (saklek) yang melekat pada pelatih-pelatih yang menangani SSD. Sebagai contoh, jadwal latihan yang 2X/minggu, tetap dilaksanakan dua kali. Padahal frekuensi tersebut tidak mencukupi untuk pencapaian sebuah prestasi olahraga.
Memang untuk menambah frekuensi latihan di luar program perlu dedikasi yang luar biasa, (perlu menjadi catatan bahwa disalah satu cabang SSD, hanya beberapa pelatih yang aktif.). Bahkan kalau perlu cabang olahraga SSD yang ditempatkan dalam klub-klub binaan Dinas Pendidikan Kota Tegal yang sudah jalan dengan latihan 3 kali dapat menambah frekuensinya menjadi minimal 5 kali. Itu baru sebuah proses untuk menuju tercapainya tujuan dalam prestasi. Tetapi itu hanya sebagian dari beberapa faktor untuk menjadikan atlet pelajar mempunyai prestasi yang tinggi (high performance sport).
Sedangkan untuk pemassalan dan pengenalan olahraga pada pelajar jelas yang dibidik harus pada usia dini. Hal ini dapat dilakukan dengan menerjunkan pelatih-pelatih SSD ke dalam sekolah-sekolah dasar yang dimungkinkan untuk pengembangan olahraga tersebut ke depannya. Dan, tugas dari tim pelatih SSD adalah memperbaiki gerak dasar dan perbaikan pola pikir siswa (bahkan orang tuanya) terhadap olahraga. Dalam proses tersebut juga siswa harus diarahkan masuk ke dalam klub yang pelatihannya lebih komprehensif.
Lepas dari apapun tujuannya, kalau ada perbaikan secara elementer dalam pelatihannya terutama frekuensinya, pasti program ini dalam lima tahun ke depan akan menciptakan atlet pelajar di Kota Tegal yang berprestasi tinggi. Memang pada tahun 2005 memang masih ada program tetapi dananya jauh berkurang. Hal itu tentu mengurangi gairah para guru untuk berkiprah lebih intens dalam pelatihan olahraga di sekolah. Makanya kita berharap pada tahun 2006 ada penambahan dana secara signifikan.
Tetapi penambahan dana tidak akan bermanfaat bila tidak ada perbaikan pelaksanaan pelatihan program SSD.
Memang tugas tim SSD sangat berat yakni menghilangkan pendapat yang sudah lama diyakini kebenarannya bahwa basis pembinaan prestasi olahraga di Kota Tegal adalah klub. Makanya selama ini titik perhatian dalam membedah pokok masalah prestasi olahraga haruslah mengarah pada klub, bukan pada sekolah. Ini tentu tantangan kita semua, mampukah kita merubah paradigma tersebut?
Taufan Arif Ns
Mantan Koordinator Pelatih SSD Cabang Olahraga Tenis Lapangan
Dan Guru SMA Ihsaniyah Kota Tegal.
Di tulis 10 Nopember 2005 – dimuat di Warta Bahari
1 komentar:
terutama perlu digalakkan olah raga lempar cakram untuk SLTP/SLTA agar tidak ada lagi siswa tak tersalur bakat lempar melempari kaca sekolah sprt di sltp 12.....Bagaimana pak Guru ORKES ???
Posting Komentar