- catatan hitam sepakbola Indonesia
Sepakbola Indonesia adalah sebuah ceritera hitam yang tak pernah berhenti. Dengan divonisnya Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Nurdin Halid 2 tahun enam bulan berarti menambah gelap dan suramnya sepakbola Indonesia. Bukan hanya itu saja, ini juga menambah deretan panjang sejarah olahraga Indonesia, bahwa untuk kesekian kalinya pengurus olahraga Indonesia terjerat kasus hukum.
Hal itu perlu digaris bawahi bahwa ini adalah kesalahan para pelaku olahraga yang punya hak suara untuk memilih ketua umumnya. Selama ini para pelaku olahraga lebih memilih ketua umumnya karena pertimbangan penampilan dan materialnya. Harusnya pelaku olahraga harus memilih pemimpin berdasarkan prinsip-prinsip dan falsafah olahraga, yang berdasarkan pada jiwa yang bersih. Selama ini pelaku olahraga mengabaikan sportivitas dan fair play yang selalu didengung-dengungkan.
Pada saat pemilihan Ketua Umum PSSI terpilih Nurdin Halid, aroma money politic-nya sangat kental. Bahkan menurut penuturan dari para pemilih kepada penulis, mereka memilih mana yang mampu memberikan uang terbanyak kepada peserta itulah yang terpilih.
Ini yang mengherankan, kenapa untuk menjadi pengurus olahraga saja harus mengeluarkan uang banyak. Padahal setelah jadi juga mengeluarkan banyak uang. Ini yang mengherankan, apa yang dicari? Ini yang kadang menimbulkan tuduhan dari masyarakat, bahwa olahraga sebagai sarana untuk mencari gengsi, mencari jabatan, bargaining position, tameng dari permasalahan hukum, dan money loundryng.
Memang tak dipungkiri bahwa olahraga yang seharusnya sebagai sarana untuk membentuk karakter bangsa ternyata tidak selaras dengan prakteknya. Maka tidak mengherankan kalau di lapangan sering terjadi kolusi, intrik, suap, judi, doping, dan narkoba. Semua itu merupakan cermin dari rusaknya bangsa kita.
Bagaimana sepakbola mau baik dan maju, kalau para pemimpinnya tidak pernah memberi contoh atau teladan yang mencerminkan akhlak seorang pemimpin. Kalau saja Nurdin Halid berjiwa gentlemen dan mau tahu diri barangkali bisa mengerti akan tekanan yang diterimanya, baik dari masyarakat, DPR, bahkan Menteri Pemuda dan Olahraga, maupun dari AFC. Tetapi Nurdin tetap bertahan dalam jabatannya, bahkan lewat sebuah media elektronik dia mengatakan kalau dorongan mengadakan Kongres Luar Biasa (KLB) itu semua adalah karena rasa ketidaksukaan mereka kepadanya karena pernah menjadi tim sukses rivalnya. Padahal kalau saja mau dilandasi olah nilai agama, maka Nurdin akan ikhlas untuk mengundurkan diri. Dan, kalau akan membantu PSSI dari luar saja, tidak perlu menonjolkan diri, riya.
Maka tidak mengherankan kalau para wasit dan PP di luar selalu bercerita kepada penulis kalau tim ini atau tim itu yang bertanding maka akan dia akan mendapatkan “penghasilan” yang lebih dari sekedar cukup, apalagi kalau menang, pokoknya bikin oke! Alasannya, untuk apa bersih dan sportif kalau pimpinannya saja tidak bersih, nah lo! Kondisi itu akan menimbulkan banyak hal yang negatif, yang muaranya pada ketidakpuasan penonton, akhirnya terjadi kerusuhan.
Kalau nilai-nilai olahraga yang agung dan luhur benar-benar ditelaah para pecintanya maka ada titik singgung yang sangat lekat dan selaras dengan nilai-nilai agama. Misal ditinjau dari sudut fisiologis, manusia diciptakan dengan tipe serabut otot yang berbeda, ada yang serabut otot cepat dan ada pula yang lambat. Ada yang memiliki kelentukan lebih, ada pula yang dianugerahi kekuatan yang lebih baik, dan sebagainya. Itu sebabnya yang mau bekerja keras dan menggunakan akal pikiran (ilmu pengetahuan dan teknologi), ialah yang akan lebih unggul, lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat. Itu saja, kalau yang menang tidak boleh sombong, karena kemenangan hanya sesaat, dan harus bekerja keras lagi untuk mempertahankannya. Kalau yang kalah berarti harus memperbaiki semua aspek dari kelemahannya. Jadi tidak ada kata meremehkan lawan, dan menyadari kekurangannya.
Andai saja sepakbola Indonesia seperti itu maka akan terasa indah dan tidak menakutkan bagi semua insan untuk menontonnya, baik yang muda, tua, laki-laki, maupun perempuan. Selama ini ada anggapan yang berkembang di masyarakat, sepakbola Indonesia bukannya sebuah tontonan yang menarik tetapi merupakan pelampiasan dari nafsu binatang para pelakunya. Tidak mengherankan kalau sering terjadi kerusuhan.
Kemudian, pengurusnya sendiri selama ini terkesan menghalalkan segala cara untuk menang, dan itu merupakan refleksi dari sifat untuk mengalahkan dan menguasai orang lain. Makanya kondisi moral para pengurusnya harus diperbaiki dahulu sebelum memperbaiki yang di lapangan. Perbaikan tersebut harus membuat perangai yang menetap kuat dalam jiwa seseorang dan merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu akan menjadi baik dan terpuji.
Kalau saja itu semua diketahui dan diimplementasikan oleh pembina, pelaku, dan penonton, maka kerusuhan di sepakbola Indonesia tidak akan terjadi. Karena mereka sadar bahwa hal-hal yang kurang baik merupakan nafsu binatang yang tidak terkendali. Sebagai manusia sudah selayaknya kita menggunakan akal yang dilandasi oleh agama, sehingga setiap gerak kita menjadi terkendali dan melahirkan kepandaian. Dengan begitu, pembinaan sepakbola harusnya menyadarkan kita akan kebesaran yang kuasa, dan makin mendekatkan kita padaNya.
Jangan sampai nilai-nilai “kemanusian” diterapkan secara sepihak, sehingga menghilangkan sikap-sikap yang tidak tepat dalam menjalankan roda organisasinya. Ini tentu mencerminkan diri kita bahwa materialisme merupakan roh dari pembinaan sepakbola di Indonesia. Maka tidak mengherankan kalau Nurdin Halid yang menjadi pesakitan tetap tegar dalam menduduki tahta kerajaan sepakbola Indonesia. Persetan moralitas!
Tetapi itu memang sudah bisa dibaca, dimana setahun yang lalu penulis menulis pada sebuah media tentang kemungkinan Nurdin Halid seperti Bob Hasan, kenyataanya? Sudah bisa dibaca bahwa itu akan terjadi!
Kita ini memang bangsa yang bebal dan tak tahu malu sehingga kemanusiaan diletakkan pada tempat yang salah. Bangsa yang beradab tentu akan menjunjung tinggi sikap sportif dan fair play. Jadi apabila yang terindikasi kurang baik harusnya mundur, tetapi di sepakbola Indonesia, uang adalah “Tuhan” baru, berhala baru!
Penulis adalah :
Taufan Arif Ns
- Praktisi Kepelatihan Olahraga
- Guru Olahraga SMA Ihsaniyah Tegal
1 Januari 2000 – DIMUAT DI SURAT KABAR HARIAN TOP SKOR
2 komentar:
he he he dadine bisa saling bloger oh
SUDAH LAMA SEKALI GAK BUKA HEHEHE
Posting Komentar