Senin, 08 Desember 2008

SEPAKBOLA CERMIN MORALITAS BANGSA?

- catatan hitam sepakbola Indonesia

Sepakbola Indonesia adalah sebuah ceritera hitam yang tak pernah berhenti. Dengan divonisnya Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Nurdin Halid 2 tahun enam bulan berarti menambah gelap dan suramnya sepakbola Indonesia. Bukan hanya itu saja, ini juga menambah deretan panjang sejarah olahraga Indonesia, bahwa untuk kesekian kalinya pengurus olahraga Indonesia terjerat kasus hukum.
Hal itu perlu digaris bawahi bahwa ini adalah kesalahan para pelaku olahraga yang punya hak suara untuk memilih ketua umumnya. Selama ini para pelaku olahraga lebih memilih ketua umumnya karena pertimbangan penampilan dan materialnya. Harusnya pelaku olahraga harus memilih pemimpin berdasarkan prinsip-prinsip dan falsafah olahraga, yang berdasarkan pada jiwa yang bersih. Selama ini pelaku olahraga mengabaikan sportivitas dan fair play yang selalu didengung-dengungkan.
Pada saat pemilihan Ketua Umum PSSI terpilih Nurdin Halid, aroma money politic-nya sangat kental. Bahkan menurut penuturan dari para pemilih kepada penulis, mereka memilih mana yang mampu memberikan uang terbanyak kepada peserta itulah yang terpilih.
Ini yang mengherankan, kenapa untuk menjadi pengurus olahraga saja harus mengeluarkan uang banyak. Padahal setelah jadi juga mengeluarkan banyak uang. Ini yang mengherankan, apa yang dicari? Ini yang kadang menimbulkan tuduhan dari masyarakat, bahwa olahraga sebagai sarana untuk mencari gengsi, mencari jabatan, bargaining position, tameng dari permasalahan hukum, dan money loundryng.
Memang tak dipungkiri bahwa olahraga yang seharusnya sebagai sarana untuk membentuk karakter bangsa ternyata tidak selaras dengan prakteknya. Maka tidak mengherankan kalau di lapangan sering terjadi kolusi, intrik, suap, judi, doping, dan narkoba. Semua itu merupakan cermin dari rusaknya bangsa kita.
Bagaimana sepakbola mau baik dan maju, kalau para pemimpinnya tidak pernah memberi contoh atau teladan yang mencerminkan akhlak seorang pemimpin. Kalau saja Nurdin Halid berjiwa gentlemen dan mau tahu diri barangkali bisa mengerti akan tekanan yang diterimanya, baik dari masyarakat, DPR, bahkan Menteri Pemuda dan Olahraga, maupun dari AFC. Tetapi Nurdin tetap bertahan dalam jabatannya, bahkan lewat sebuah media elektronik dia mengatakan kalau dorongan mengadakan Kongres Luar Biasa (KLB) itu semua adalah karena rasa ketidaksukaan mereka kepadanya karena pernah menjadi tim sukses rivalnya. Padahal kalau saja mau dilandasi olah nilai agama, maka Nurdin akan ikhlas untuk mengundurkan diri. Dan, kalau akan membantu PSSI dari luar saja, tidak perlu menonjolkan diri, riya.
Maka tidak mengherankan kalau para wasit dan PP di luar selalu bercerita kepada penulis kalau tim ini atau tim itu yang bertanding maka akan dia akan mendapatkan “penghasilan” yang lebih dari sekedar cukup, apalagi kalau menang, pokoknya bikin oke! Alasannya, untuk apa bersih dan sportif kalau pimpinannya saja tidak bersih, nah lo! Kondisi itu akan menimbulkan banyak hal yang negatif, yang muaranya pada ketidakpuasan penonton, akhirnya terjadi kerusuhan.
Kalau nilai-nilai olahraga yang agung dan luhur benar-benar ditelaah para pecintanya maka ada titik singgung yang sangat lekat dan selaras dengan nilai-nilai agama. Misal ditinjau dari sudut fisiologis, manusia diciptakan dengan tipe serabut otot yang berbeda, ada yang serabut otot cepat dan ada pula yang lambat. Ada yang memiliki kelentukan lebih, ada pula yang dianugerahi kekuatan yang lebih baik, dan sebagainya. Itu sebabnya yang mau bekerja keras dan menggunakan akal pikiran (ilmu pengetahuan dan teknologi), ialah yang akan lebih unggul, lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat. Itu saja, kalau yang menang tidak boleh sombong, karena kemenangan hanya sesaat, dan harus bekerja keras lagi untuk mempertahankannya. Kalau yang kalah berarti harus memperbaiki semua aspek dari kelemahannya. Jadi tidak ada kata meremehkan lawan, dan menyadari kekurangannya.
Andai saja sepakbola Indonesia seperti itu maka akan terasa indah dan tidak menakutkan bagi semua insan untuk menontonnya, baik yang muda, tua, laki-laki, maupun perempuan. Selama ini ada anggapan yang berkembang di masyarakat, sepakbola Indonesia bukannya sebuah tontonan yang menarik tetapi merupakan pelampiasan dari nafsu binatang para pelakunya. Tidak mengherankan kalau sering terjadi kerusuhan.
Kemudian, pengurusnya sendiri selama ini terkesan menghalalkan segala cara untuk menang, dan itu merupakan refleksi dari sifat untuk mengalahkan dan menguasai orang lain. Makanya kondisi moral para pengurusnya harus diperbaiki dahulu sebelum memperbaiki yang di lapangan. Perbaikan tersebut harus membuat perangai yang menetap kuat dalam jiwa seseorang dan merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu akan menjadi baik dan terpuji.
Kalau saja itu semua diketahui dan diimplementasikan oleh pembina, pelaku, dan penonton, maka kerusuhan di sepakbola Indonesia tidak akan terjadi. Karena mereka sadar bahwa hal-hal yang kurang baik merupakan nafsu binatang yang tidak terkendali. Sebagai manusia sudah selayaknya kita menggunakan akal yang dilandasi oleh agama, sehingga setiap gerak kita menjadi terkendali dan melahirkan kepandaian. Dengan begitu, pembinaan sepakbola harusnya menyadarkan kita akan kebesaran yang kuasa, dan makin mendekatkan kita padaNya.
Jangan sampai nilai-nilai “kemanusian” diterapkan secara sepihak, sehingga menghilangkan sikap-sikap yang tidak tepat dalam menjalankan roda organisasinya. Ini tentu mencerminkan diri kita bahwa materialisme merupakan roh dari pembinaan sepakbola di Indonesia. Maka tidak mengherankan kalau Nurdin Halid yang menjadi pesakitan tetap tegar dalam menduduki tahta kerajaan sepakbola Indonesia. Persetan moralitas!
Tetapi itu memang sudah bisa dibaca, dimana setahun yang lalu penulis menulis pada sebuah media tentang kemungkinan Nurdin Halid seperti Bob Hasan, kenyataanya? Sudah bisa dibaca bahwa itu akan terjadi!
Kita ini memang bangsa yang bebal dan tak tahu malu sehingga kemanusiaan diletakkan pada tempat yang salah. Bangsa yang beradab tentu akan menjunjung tinggi sikap sportif dan fair play. Jadi apabila yang terindikasi kurang baik harusnya mundur, tetapi di sepakbola Indonesia, uang adalah “Tuhan” baru, berhala baru!

Penulis adalah :
Taufan Arif Ns
- Praktisi Kepelatihan Olahraga
- Guru Olahraga SMA Ihsaniyah Tegal
1 Januari 2000 – DIMUAT DI SURAT KABAR HARIAN TOP SKOR

SSD SARANA PEMBINAAN OLAHRAGA PELAJAR DI KOTA TEGAL?

Melihat olahraga pelajar di Indonesia termasuk di Kota Tegal bisa bercermin dari hasil penelitian di tahun 2003 dari pakar olahraga Jerman, Hans-Peter Thumm, yang memperoleh data bahwa hanya tiga sampai lima persen dari populasi anak sekolah dasar dan menengah dari jumlah pelajar di Indonesia yang menuhi syarat motorik untuk masuk dalam olahraga prestasi (high performance sport). Sedangkan yang masuk dalam klub-klub olahraga hanya berapa persennya dari jumlah tersebut. Jadi jumlahnya hanya nol koma nol sekian.
Maka tidak mengherankan kalau beberapa pembina klub olahraga di Kota Tegal mengeluh kekurangan pemain yang berbakat. Bahkan mereka juga sering merasa heran kenapa ada atlet yang masuk klubnya tidak punya keterampilan gerak dasar. Ini tentu menjadi masalah yang sangat prinsipil, ada yang salah dalam olahraga di sekolah, tidak hanya di Kota Tegal tetapi di semua daerah di Indonesia!
Dukungan Guru
Berbicara olahraga pelajar di Kota Tegal tentu tidak sekedar kerja keras pelatih, dan pelatih yang bagus juga tidak menjadi jaminan atletnya bisa berprestasi bagus. Banyak aspek yang harus dipunyai seperti lingkungan yang mendukung, seperti sekolah, orang tua dan teman. Tetapi dalam prakteknya atlet pelajar sering merasa kurang didukung oleh guru. Padahal bila guru mau mengakui secara jujur, banyak atlet pelajar di Kota Tegal yang prestasi akademiknya lebih bagus dari sebagian siswa.
Memang kurang tepat apabila menyalahkan guru yang sangat minimalis dalam mendukung pelatihan atlet pelajar. Angka kelulusan minimal 4, 26 menjadikan guru sangat ‘ketakutan’ menghadapinya. Akhirnya atlet pelajar sering mengeluh karena sering disudutkan dalam choice yang sangat sempit sekali. Hal ini menjadi salah satu hambatan dalam peraihan prestasi olahraga pelajar. Padahal bila berbicara masa depan anak tidak hanya terletak pada faktor akademik semata.
Hambatan berikutnya adalah kegiatan ekstra kurikuler, ini diakui atau tidak memang sering menghambat atlet pelajar dalam pelatihan secara sistematis dan komprehensif. Sebagai contoh, pada saat penulis menjadi pelatih fisik disalah satu cabang olahraga, banyak atlet pelajar yang sering ijin tidak mengikuti pelatihan karena kegiatan ekstra kurikuler. Menurut penuturan atlet pelajar yang disampaikan kepada penulis, mereka merasa gurunya kurang bisa menerima kalau ijin tidak mengikuti ekstra kurikuler. Lepas dari masalah benar atau tidak penuturan tersebut, kondisi psikologis yang ada jelas mengganggu kejiwaan atlet. Padahal kalau berbicara secara ideal, yang namanya pelatihan olahraga prestasi harus sistemis, dari psikis, sampai fisik, dan tidak boleh ada istirahat yang lebih dari 48 jam. Dengan minimal pelatihan 18 jam/minggunya untuk siswa yang aktif sekolah, kurang dari itu maka tidak efektif pelatihan yang ada!
SSD Sebagai Solusi?
Maka menjadi sangat strategis dan langkah jenius kala Depdiknas meluncurkan program School Sport Development (SSD), dan Kota Tegal menjadi salah satu dari lima daerah di Propinsi Jawa Tengah yang menerimanya.
Program SSD ini sangat menguntungkan atlet pelajar. Bagaimana tidak, atlet pelajar menjadi merasa diperhatikan oleh sekolah. Memperbanyak dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang utamanya meliputi atlet, pelatih, manajer, wasit, dan administratur pertandingan dan organisasi dari kalangan sekolah. Meningkatkan pendekatan science dan technology (iptek) dalam rangka memperkokoh landasan dan memantapkan arah perkembangan olahraga pelajar dengan melibatkan sekolah. Mempersatukan pelajar di Kota Tegal lewat olahraga. Meningkatkan reputasi sekolah melalui citra positif organisasi, manajemen, dan prestasi olahraga pelajar di Kota Tegal.
Tetapi permasalahannya, mau dibawa kemana SSD tersebut? Mau ke pemassalan atau ke prestasi? Dimana kedua tujuan tersebut sama-sama mempunyai konsekuensi. Kalau untuk prestasi jelas diperlukan SDM yang mumpuni, padahal saat penulis terjun ke dunia pelatihan harus diakui bahwa ada kekurangan dalam kualitas guru pendidikan jasmani yang menjadi pelatih. Hal ini ditambah dengan project oriented (saklek) yang melekat pada pelatih-pelatih yang menangani SSD. Sebagai contoh, jadwal latihan yang 2X/minggu, tetap dilaksanakan dua kali. Padahal frekuensi tersebut tidak mencukupi untuk pencapaian sebuah prestasi olahraga.
Memang untuk menambah frekuensi latihan di luar program perlu dedikasi yang luar biasa, (perlu menjadi catatan bahwa disalah satu cabang SSD, hanya beberapa pelatih yang aktif.). Bahkan kalau perlu cabang olahraga SSD yang ditempatkan dalam klub-klub binaan Dinas Pendidikan Kota Tegal yang sudah jalan dengan latihan 3 kali dapat menambah frekuensinya menjadi minimal 5 kali. Itu baru sebuah proses untuk menuju tercapainya tujuan dalam prestasi. Tetapi itu hanya sebagian dari beberapa faktor untuk menjadikan atlet pelajar mempunyai prestasi yang tinggi (high performance sport).
Sedangkan untuk pemassalan dan pengenalan olahraga pada pelajar jelas yang dibidik harus pada usia dini. Hal ini dapat dilakukan dengan menerjunkan pelatih-pelatih SSD ke dalam sekolah-sekolah dasar yang dimungkinkan untuk pengembangan olahraga tersebut ke depannya. Dan, tugas dari tim pelatih SSD adalah memperbaiki gerak dasar dan perbaikan pola pikir siswa (bahkan orang tuanya) terhadap olahraga. Dalam proses tersebut juga siswa harus diarahkan masuk ke dalam klub yang pelatihannya lebih komprehensif.
Lepas dari apapun tujuannya, kalau ada perbaikan secara elementer dalam pelatihannya terutama frekuensinya, pasti program ini dalam lima tahun ke depan akan menciptakan atlet pelajar di Kota Tegal yang berprestasi tinggi. Memang pada tahun 2005 memang masih ada program tetapi dananya jauh berkurang. Hal itu tentu mengurangi gairah para guru untuk berkiprah lebih intens dalam pelatihan olahraga di sekolah. Makanya kita berharap pada tahun 2006 ada penambahan dana secara signifikan.
Tetapi penambahan dana tidak akan bermanfaat bila tidak ada perbaikan pelaksanaan pelatihan program SSD.
Memang tugas tim SSD sangat berat yakni menghilangkan pendapat yang sudah lama diyakini kebenarannya bahwa basis pembinaan prestasi olahraga di Kota Tegal adalah klub. Makanya selama ini titik perhatian dalam membedah pokok masalah prestasi olahraga haruslah mengarah pada klub, bukan pada sekolah. Ini tentu tantangan kita semua, mampukah kita merubah paradigma tersebut?

Taufan Arif Ns
Mantan Koordinator Pelatih SSD Cabang Olahraga Tenis Lapangan
Dan Guru SMA Ihsaniyah Kota Tegal.
Di tulis 10 Nopember 2005 – dimuat di Warta Bahari